Generasi Muda


Sering kita mendengar atau membaca pernyataan begini: generasi muda adalah penerus bangsa. Pernyataan seperti ini sering keluar dari mulut seorang tokoh publik. Biasanya itu diucapkan ketika memperingati peristiwa sejarah berkaitan dengan peran generasi muda. Pertanyaannya: apa benar generasi muda penerus bangsa?

Kalau asumsinya bahwa generasi muda sekarang pastilah kelak berperilaku baik dan berkeinginan mempertahankan kelangsungan hidup berbangsa, pernyataan itu bisa jadi benar. Tapi, kenyataannya, yang disebut generasi muda itu tidaklah tunggal dan statis. Aspirasi dan keinginan mereka bisa saja berkembang seiring perjalanannya. Sikapnya terhadap bangsa pun bisa saja berubah. Misalnya, sebagai individu atau kelompok, ada bagian dari generasi muda sekarang yang merasa bangsa yang sekarang tak perlu diteruskan.

Tapi, kenapa hal itu bisa mungkin? Pertama, jika sebagian generasi muda merasa bahwa kebijakan pembangunan yang berlangsung sekarang telah menempatkan mereka pada posisi yang diperlakukan secara tidak adil, alias didiskriminasi. Kedua, sebagian generasi muda merasa bahwa hukum telah diberlakukan secara tidak sama. Buat orang kaya dan berpunya, hukum bisa terasa lunak. Sementara buat mereka yang miskin dan tak punya apa-apa hukum diperlakukan secara keras.

Dalam kaitan itu, sebagian generasi muda merasa hidup berbangsa dalam payung negara Indonesia ternyata bukan buat mereka. Negara ternyata hanya melayani sebagian anak bangsa, tapi bukan mereka. Generasi muda yang merasa seperti ini bisa jadi akan memilih sikap bahwa bangsa dan negara Indonesia ini tak layak dipertahankan. Mereka merasa lebih baik membuat atau membangun bangsa dan negara sendiri.

Sikap lebih lunak dari itu adalah melakukan tindak kriminal, mengganggu keamanan dan ketenangan masyarakat atau bahkan menjadi teroris.

Karena itu, pernyataan di atas sekadar retoris sifatnya bahkan omong-kosong jika tidak diikuti oleh perbuatan yang mengarah pada pengembangan hidup berbangsa dan bernegara yang berkeadilan. Pernyataan itu bisa jatuh sekadar menjadi ideologi untuk menutupi realitas ketidak-adilan yang terjadi dalam hidup berbangsa.

Pesan buat mereka yang suka mengumbar pernyataan-pernyataan semacam, baiklah kiranya jika perhatian dan kerja diarahkan pada pengembangan hidup bersama yang berkeadilan dan jauh dari diskriminasi. Mengulang-ulang sesuatu yang kosong bukan tidak mungkin malah memunculkan sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya rasa muak pada generasi muda melihat perilaku elite dan tokoh politik yang cuma bisa memprovokasi dan menghasut – tapi tidak melakukan sesuatu yang nyata.

Barangkali kata bijak “diam adalah emas” bisa dicoba. Tokoh dan elite politik sebaiknya diam saja. Tidak usah berkomentar kalo perubahan tidak terjadi...

Sahabat Dan Pacar


SAHABAT dan pacar. Alangkah bahagianya bila kita memiliki keduanya. Punya sahabat, pacar juga ada. Sahabat dan pacar memiliki dua posisi dan peran yang berbeda bagi kita.

Bagaimanapun, sahabat dan pacar memiliki tempat yang berbeda di hati kita. Walau sama-sama sangat berarti, kita tetap tidak bisa menyamakan sikap terhadap keduanya karena dua makhluk hidup itu memiliki peran yang berbeda. Di satu sisi, sahabat adalah orang yang kita merasa nyaman untuk membicarakan hal-hal yang mungkin konyol bagi orang lain. Di sisi lain, pacar adalah seseorang yang kita inginkan hanya menjadi milik kita.

Dengan mengabaikan bahwa peran dan posisi mereka berbeda, bisa mengakibatkan munculnya masalah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pembagiannya antara sahabat dan pacar.

Ada baiknya kita memperkenalkan dan mempertemukan pacar dengan sahabat. Tidak perlu sampai terlalu akrab sih. Yang penting kalau kita cerita tentang sahabat kita kepada. pacar, dia akan tahu siapa yang kita maksud, tanpa harus menerangkan ulang secara panjang lebar tentang sahabat kita. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu, upaya ini juga dapat mengurangi rasa iri dan curiga sang pacar kepada sahabat kita, terlebih bila kita lebih dulu bersahabat sebelum pacaran. Keirian dan kecurigaan ini bisa muncul dari perasaannya bahwa kita lebih mengetahui seluk-beluk seputar sahabat kita dibandingkan dengan mengenalnya.

Fatal akibatnya bila kita tidak peka dengan kedua macam perasaan pacar kita itu. Karena, perasaan itu bisa meluas dan memunculkan perasaan baru, yaitu cemburu.

Kepentingan keduanya pun harus kita seimbangkan. Jangan sampai salah satu dari mereka sampai merasa dialah yang paling berhak memiliki kita. Kita bisa membagi waktu untuk keduanya. Kapan “jam tayang” untuk gosip terbaru yang akan kita siarkan ber-sama sahabat, dan kapan kita akan menghabiskan malam romantis bersama si dia.

Cara lain untuk menjembatani kedua belah pihak dengan kepentingan berbeda itu bisa saja dengan melakukan kegiatan bersama, antara kita, sahabat, dan pacar. Kegiatan bersama ini bisa ditujukan selain untuk mempertemukan mereka berdua, juga untuk mengajak mereka memahami posisi dan peran masing-masing. Tidak perlu terlalu sering sih karena kita juga kan harus memiliki privasi di luar mereka.

Yang terpenting, dengan kegiatan bersama itu, diharapkan mereka tidak akan menuntut terlalu banyak, melebihi kapasitas mereka di samping kita.

Idealis memang, tapi menurutku begitu seharusnya cinta yang tulus. Ada yang bilang “cinta” dan “kasih” itu berbeda. “Cinta” diperuntukkan bagi (calon) pasangan hidup, sedangkan “kasih” diperuntukkan bagi sahabat. Tapi, jika memang “kasih” itu lebih berkualitas daripada “cinta”, dalam arti sempit lebih tulus dan lebih membebaskan, alangkah baiknya ketika “cinta” itu dibangun di atas “kasih”. Alangkah indahnya pula ketika pernikahan itu dibangun di atas persahabatan yang sejati.


Google Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Entri Populer

About Me

Foto Saya
aulia_rinaldy
Lihat profil lengkapku

Statistik visit

Chat me

Followers

pasang iklan

Klik saya